This is Chhupa Chhupee (“Hide and seek” in Hindi) a portable and playfull divider for coworking space. This project was exhibited during Salone del Mobile 2013.
Thanks to my colleague Kaisha Davierwalla for the collaboration :). 

This is Chhupa Chhupee (“Hide and seek” in Hindi) a portable and playfull divider for coworking space. This project was exhibited during Salone del Mobile 2013.

Thanks to my colleague Kaisha Davierwalla for the collaboration :). 

Cash-less

Today, money is just like oxygen, unseen. The concept of legal payment method becomes more intangible, hence the archetype of wealth becomes more invisible. Slowly but sure, we were “forced” to accept it.

Credit card, debit card, internet banking, NFC, online shopping, and many contemporary transaction method has been marketed as a new and modern way of living in the behalf of practicability; a cash-less world.

We can do transaction through our smart phone, tablet, and even with 9x5cm plastic card. A new concept of the future.

Few days ago, there was an old man from Cyprus who woke up in the morning just to realized that he had a horrible “real” nightmare, he just lost 90% of his pension savings just within one night because the bank where he saved all his money was declared in bankruptcy by the government.

World was shocked when a strong economical power such as Europe Union collapse and sinking within a short time. What happen? Their GDP is strong isn’t it? Where is all the money? To be more precise, where is all the “invisible” money?

Invisible? Really? Yes, for your information, only 3% of all US Dollar in the world is physical money, while the other 97% is digital. Hence I would assume it invisible.

Is it really invisible? To be honest, not really. We are still able to monitor the amount of wealth through numbers. Yes, numbers that we saw on the ATM screen, stock market, foreign exchange statistic, and many other; along with all “scary and unfriendly” arithmetic’s calculation that will make most of people confused. Unfortunately, those number representing the intangible.

Many people forget, that something  that invisible is hardly to control. In fact, many external factors could access it without our permission.

We celebrating the cash-less culture, while other people celebrating our brain-less attitude.

Why?

Do you agree that rainbow after a heavy rain is beautiful? How about the aurora borealis in northern part of Europe? Is it stunning? Then…what is your opinion regarding the diversity of coral in Great Barrier Reef in Australia? Breath-taking? Hmmm…also the sound of birds in the morning, what do you think?

All of those beauties are given to all of us, because God love us. God knows that we are fond of beauties.

Fortunately, many of us has blessed with the ability to create beauty, through music, art, dance, poem, and many other things. One of them is through design.

So….if God has teach us that all of us deserve of beauties, then…why many of us, designers, love to create something that cannot be afforded or accessed by many people?

MLN DSGN WIK 2013

One of my design (collaborated with my colleague Kaisha Davierwalla) will be exhibited during Milan Design Week next month.

Wish us luck, and see you at the gigs. :)

Ruang

Space (sphttp://img.tfd.com/hm/GIF/amacr.gifs) : “The boundless three-dimensional extent in which objects exist and events occur and have relative position and direction.

Definisi ruang telah lama diperdebatkan oleh banyak orang, mulai dari Emmanuel Kant, Isaac Newton, hingga Albert Einstein, dan proyek desain saya kali ini erat berkaitan dengan “ruang”.

Seiring dengan mulai menjelangnya revolusi industri ketiga, tipologi dari ruang juga telah berubah, hal ini seringkali luput dari perhatian kita, terutama berkenaan dengan pembagian ruang pribadi dan ruang publik.

Dulu, pembagian ruang publik dan personal sangatlah mudah, karena berhubungan dengan pembatas yang secara fisik terlihat dan nyata. Misalnya apabila seseorang membutuhkan waktu untuk menyendiri, maka dia cukup mengurung diri di dalam kamar, sebaliknya apabila seseorang ingin bersosialisasi dengan orang lain maka cukup pergi ke taman kota.

Hal ini mulai sedikit berubah sejak Sony mengeluarkan desain Walkman yang langsung mengubah budaya anak muda di era 80-an. Kala itu Walkman menawarkan ruang personal dimanapun seseorang berada, cukup dengan menempelkan earphone ke telinga dan mendengarkan musik, maka seseorang secara psikologi telah memiliki ruang personal.

Di era jaringan sosial yang merevolusi tatanan dunia sejak pertengahan tahun 2000-an, konsep ruang personal dan publik kembali berubah. Layar sebesar 3 inchi sekarang bisa menjadi ruang publik dengan nama Facebook dan Twitter atau bisa menjadi ruang personal hingga mengabaikan teman yang duduk di sebelah.

Pendekatan yang kami lakukan (kebetulan untuk proyek ini saya berkolaborasi dengan seorang teman dari India) adalah mendefinisikan ulang ruang publik dan personal di dalam lingkup ruang kerja yang mana pada kenyataannya perlahan tapi pasti sedang bertranformasi. Hal ini bisa dilihat dengan semakin menjamurnya SOHO (Small Office Home Office), Co-working space, dan Fabrication Laboratory (Fablab).

Untuk lebih detilnya belum bisa saya bagi disini karena memang sedang dalam pengerjaan, mohon doanya. :)

Mendesain bersama alam

Di dalam salah satu proyek sekolah, kami bertemu seorang project leader yang bisa memberi wawasan baru terutama untuk saya pribadi terhadap desain. Namanya adalah Renato Montagner, saat ini dia selain memiliki studio desain sendiri juga menjabat sebagai creative director di Dainese dan Pirelli.

Dia mengenalkan kepada saya tentang “emotional sustainability”. Sebuah kata yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi.

Dia menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang telah membuat begitu banyak perubahan di planet ini, sayangnya tidak semua perubahan itu bagus, bahkan banyak diantaranya bersifat merusak.

Dari segi desain, dia menjelaskan banyaknya desain yang tidak berkiblat kepada alam, terutama dalam hal bentuk. Sehingga banyak terjadi apa yang dia bilang sebagai “visual carbon footprint”.

Sebagai contoh adalah desain kursi. Alam tidak mengenal fungsi dan bentuk produk kursi sebelumnya, bahkan dulu manusia tidak membutuhkan kursi hanya untuk duduk dan beristirahat.

Saat ini begitu banyak (mungkin terlalu banyak) desain kursi yang secara bentuk sangat artifisial, sehingga ketika dia tidak sedang digunakan, dia menjadi “pengganggu” secara visual. Selain itu kursi tersebut terbuat dari ornamen dan banyak ragam jenis material. Hal ini juga kurang tepat, karena kalau kita melihat dari semua benda dan makhluk di alam, semua motif itu punya fungsi, motif sisik ular punya fungsi sebagai kamuflase, bulu beruang kutub punya fungsi sebagai penghangat, dan lain sebagainya. Lalu kenapa banyak desain (baik produk, ruangan, atau aritektur) yang menghabiskan banyak material hanya untuk ornamen yang nantinya jadi sarang debu?.

Selain itu semua makhluk dan benda di alam terbuat dari sedikit jenis material, misalnya kepiting, hampir semua bagian tubuhnya terbuat dari bahan kulit seperti cangkang yg keras, pohon juga hanya terdiri dari kayu dan daun. Kemudian sangat disayangkan bila kita mendesain dengan begitu banyak jenis material.

Tanpa kita sadari, mata kita suka melihat segala hal yang berkaitan dengan alam, seperti pemandangan pantai, sawah, gunung, lembah, dsb, karena memang kita bagian dari alam.

Bila kita mendesain dari alam, maka secara emosional kita merasa tidak terintimidasi dan dapat lebih mudah memahami desain tersebut.

Tuhan adalah super desainer. Dia telah memberikan “warehouse” dan katalog desain di alam ini untuk bisa ditiru, dicontoh, dan dipelajari oleh kita. 

Dutch Design Week 2012

“Social Design” adalah kata yang tepat menggambarkan semangat Dutch Design kali ini. Pergantian konsep pada desain Belanda sepertinya semakin jelas terlihat dari tahun ke tahun. Secara pribadi, saya merunut pergerakan desain kontemporer Belanda sejak kepopuleran Gijs Bakker dengan Droog Design yang mendobrak tatanan desain pada waktu itu. Sebuah gerakan yang secara semangat sangat mirip dengan gerakan desainer – desainer Italia pada akhir 1970-an dengan Memphis dan Archizoom.  Semangat ini kemudian bertransformasi melalui beberapa institusi pendidikan seperti Design Academy Eindhoven ke arah “Social Design”. Hasil transformasi ini sangat jelas terlihat di Dutch Design Week yang lalu.

Saya pribadi beberapa kali dibuat kagum dan salut dengan tema dan pendekatan riset yang dilakukan oleh desainer – desainer Belanda terhadap berbagai isu permasalahan.

Salah satunya adalah konsep “Food Pharmacy” karya Maaika Schuitema. Sebuah konsep farmasi yang mengganti obat-obatan kimia buatan pabrik dengan bahan makanan dan sayuran organik. Contoh kasarnya misalnya apabila seseorang merasa sakit kepala, maka daripada dia harus mengkonsumsi obat kimia, lebih baik makan beberapa buah tomat (studi asal-asalan saya sendiri ini). Kemudian ada juga mainan edukatif anak dari kayu karya Hikaru Imamura yang bertujuan mengenalkan dunia kedokteran kepada anak dengan cara yang menarik.

Droog Design juga mengangkat tema “dematerialisasi” dengan caranya sendiri. Sebuah karya yang mengajak pengunjung untuk berwacana. Tipikal karya yang saya pribadi tidak begitu tertarik, karena menurut saya akan lebih bagus lagi apabila tidak hanya berwacana tapi juga aplikatif.

Hal ini serupa dengan karya Nacho Carbonelli yang dipajang di depan gereja tua di dekat Centruum. Karya tersebut ingin mengangkat isu cara manusia saat ini berkomunikasi. Tapi sekali lagi ini adalah tipikal karya yang akan menghuni ruang pameran di museum atau galeri.

Studio yang sukses membuat saya terkagum kagum adalah Roosegarde, sebuah studio lighting yang benar-benar berkreasi jauh diluar batas. Mereka menampilkan konsep tentang jalur jalan tol khusus untuk kendaraan listrik dengan menanam batang logam sehingga mobil listrik yang lewat akan sekaligus mengisi ulang baterainya dengan metode pengisian induksi elektromagnetik. Mereka juga menawarkan solusi dan ide tentang efisiensi penggunaan lampu jalan di jalan tol.

Selain dari begitu banyak karya desain Belanda yang mengandung pesan, ada juga yang memilih eksplorasi material dan konstruksi sebagai tema utama. Hal ini juga dilakukan dulu oleh Marcel Wander dengan “Knot Chair” di awal karirnya.

Sayangnya ada beberapa karya yang menurut saya mungkin masih mentah dan banal bahkan ada yang terlihat “sangat terinspirasi” oleh karya desainer terkenal seperti salah satu karya mahasiswa Design Academy yang menurut saya ssangat terlihat sebagai karya Jerszy Seymour, hanya mungkin ini versi mahasiswanya.

Terlepas dari semua itu, banyak yang bisa dipelajari dari perkembangan desain di Belanda. Bagaimana mereka bisa memasukkan pesan dan menjawab permasalahan yang ada, sebuah pendekatan yang agak berbeda dengan desain di Italia.

Genius design by Studio Roosegardes

I visited them during previous Dutch Design Week and got impressed with their idea, eventhough some of them still in concept phase and need some feasibility research, but still, kudos for them! 

ReaDesign

Kesempatan kali ini saya ingin berbagi salah satu tema dalam kuliah saya. tema tersebut adalah “READESIGN”, secara harafiah dapat diterjemahkan menjadi “membaca sebuah desain”. Pada umumnya (terutama saya dulu) hanya melihat dan membaca sebuah desain, katakanlah kursi hanya dari : 1. Siapa desainernya, 2. Visual bentuknya, 3. Fungsionalnya. Bahkan ada juga yang langsung menjustifikasi sebuah desain tersebut bagus hanya karena didesain oleh desainer terkenal.

Contoh sederhana cara membaca sebuah desain adalah berawal dari sebuah pertanyaan seperti “kenapa kursi Thonet #14 ini sangat laku dan menjadi salah satu kursi yang paling banyak dijiplak sepanjang masa?” atau mungkin “kenapa kursi Red and Blue dari Rietveld itu begitu terkenal, padahal secara fungsi tidak nyaman diduduki?”. Karya desain yang terkenal dan menjadi ikon pada umumnya tidak bermula langsung diatas kertas sketsa dan dengan tujuan untuk membuat sebuah desain yang “bagus” atau bahkan “unik”. Tidak sedangkal itu.

Proses desain selalu dimulai dari sebuah riset, baik pada sisi teknologi, manusia, material, dan lain sebagainya. Hal ini saya dapatkan konfirmasi langsung dari desainer sekelas Naoto Fukasawa, Konstantin Grcic dan dari putri almarhum Achille Castiglioni. Jadi sangat salah bila seorang desainer langsung memulai proses desain dari kertas sketsa apalagi hanya dengan tujuan membuat desain yang “bagus”.

Sebagai contoh adalah kursi Thonet #14. Kursi ini menjadi sangat terkenal karena inovasi pengolahan material yang sangat maju pada jamannya. Bayangkan saja proses pembengkokan kayu yang akhirnya membongkar tipologi bentuk kursi kayu sebelumnya, dan proses tersebut masih menjadi acuan dan inspirasi pada proses pengolahan kayu yang lebih modern. Hal ini terjadi sebelum tahun 1900an. Selain itu, kursi ini bisa dibongkar menjadi 14 bagian yang memudahkan proses distribusi, itulah kenapa disebut kursi no 14. Apabila kita telaah lebih jauh lagi, inovasi kursi Thonet baru memungkinkan terjadi di akhir 1800an karena memang telah ditemukannya mesin uap yang menjadi pencetus Revolusi Industri.

Contoh berikutnya adalah desain lampu Arco dari Castiglioni untuk Flos. Produk ini adalah hasil respon atas fenomena perubahan tipologi denah interior ruang keluarga setelah ditemukannya televisi pada tahun 1960an.

Konsep ini tidak hanya terbatas untuk karya-karya desainer terkenal, tetapi juga bisa diaplikasikan pada produk-produk yang kita temui sehari hari. Misalnya kita bertemu kendaraan Bajaj, kita bisa sedikit membaca adanya budaya dari negara produsennya, kenapa tidak memakai jendela kaca, kenapa memakai atap kain, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, janganlah pernah memulai proses desain langsung dengan sketsa atau hanya melihat produk dari bentuk visualnya saja, karena kita desainer, bukan stylist.

Design for All #1

“Beauty for All” - Ellen Key (1896) -

I am strongly believed that design is made purposely for human being, not only for 10% population or even only for museum. That’s why I decided to share some of my works for public, as long as it will not use for commercial purpose.

This is A Stool, a multifunction stool that if stacked could transformed into shelves. Made from 18mm plywood. You can apply whatever finishing type that you want.

The overall dimension are 30 x 40 x 45cm, and with a standard plywood board (122 x 220cm) you can make approximately 4 pcs of stool.

If you want the blueprint of this design is easy. Please send me an email at fitorio@gmail.com then I will send you the blueprint, afterwards you can go to your local carpenters.

Again…one thing that I asked is, please do not sell the product after you made it.

Let’s share it guys :) 

Best regards,

Fitorio Leksono